Pages

20 Des 2012

"Manusia Koran" dari Bantul

Inovasi mencari dan mendapatkan kekuatan sebuah karakter, wajib dilakukan, untuk kemudian dimiliki se- orang senirupawan, jika menginginkan tetap eksis di dunianya. Apalagi, pada zaman sekarang, zaman keterbukaan berekspresi dalam seni. Zaman, di mana ekspresi berkarakter seorang senirupawan, menjadi senjata andalan untuk menghadapi gelombang persaingan yang kian kompetitif, baik dari luar negeri maupun di dalam negeri.

Kontemporer. Itulah iklim yang sedang terekspos sebagai "yang terpanas" dalam dunia seni rupa, khususnya lukisan. Bayangkan saja, pada zaman sekarang ini, lukisan-lukisan kontemporer menguasai lebih dari setengah pasaran lukisan dunia.

Tengok saja di setiap pelelangan yang dilakukan balai lelang kelas dunia seperti Christie dan Sotheby, lukisan-lukisan kontemporer, khususnya lukisan dari "tanah leluhur" lukisan kontemporer, yaitu Tiongkok, harganya sungguh spektakuler. Mencapai puluhan miliar rupiah! Contohnya lukisan karya Fang Lijun, Yue Minjun, Song Yonghong, Shen Xiaotong, atau "Green Dog" Zhou Chunya. Dengan harga setinggi itu, jelas nilai lukisan kontemporer mampu menggusur lukisan-lukisan karya old master yang hidup pada era modern.

Kini, pada saat dunia sedang diserang wabah krisis keuangan global, dengan bertumbangannya hampir seluruh pasar saham di dunia, khususnya di Amerika Serikat, kolektor lukisan dan art dealer dari Asia, Eropa, dan Amerika, mulai melupakan sejenak lukisan-lukisan senirupawan Tiongkok. Mereka beralasan harga lukisan- lukisan kontemporer Tiongkok terlalu mahal.

Bahkan, konon, di tanah Tiongkok pun, kurator, kolektor, dan art dealer, saat ini "bereksodus" ke Indonesia. Mereka mulai memburu lukisan-lukisan kontemporer karya anak bangsa. Pasalnya, lukisan-lukisan kontemporer Indonesia harganya lebih murah -meski masih dalam hitungan miliaran rupiah,- namun kualitasnya tidak kalah dengan karya senirupawan Tiongkok. Hanya saja, seni rupa kontemporer Indonesia kurang terekspos, sehingga diibaratkan "jago kandang" saja.

Kondisi itulah yang harus dimanfaatkan pelaku seni rupa di negeri ini dengan baik agar karya-karya mereka bisa dikenal, kemudian diterima dunia luar. Saat ini memang sudah terbentuk beberapa senirupawan kontemporer papan atas Indonesia, yang kalau dilihat dari karyanya sudah dihargai ratusan juta hingga miliaran rupiah, seperti I Nyoman Masriadi, Putu Sutawijaya, Rudi Mantovani, dan lain-lain. Karya-karya mereka memikat kurator, kolektor, dan art dealer luar negeri, karena memang sudah memiliki karakter kuat.

Namun, Indonesia sebenarnya memiliki banyak senirupawan kontemporer berkarakter kuat. Sebut saja Budi Ubrux, senirupawan dari Desa Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Pelukis yang dilahirkan 40 tahun silam dengan nama Budi Mulyono itu sudah menemukan kekuatannya dalam berkarakter di atas kanvas. Bahkan, tema-tema yang diusung Budi dalam berekspresi, dengan pemahaman dan pemikiran yang jernih terhadap kondisi sosial dan politik yang meliputi kehidupan manusia dan peran media ini, sudah dilirik dunia luar.

Terkejut

Setelah menekuni gaya realis dan kemudian dekoratif dalam menarikan kuasnya di atas kanvas, kini naluri seni Budi menyatu dengan seni kontemporer. Dia memakai kertas koran sebagai motif utama pada karyanya, untuk menjadi bahan kontemplasi bagi penikmat seni.

Budi bermain dengan keindahan setiap lipatan, lekukan, dan detail-detail pada koran sejak 1999. Melalui tema-temanya yang kompleks, Budi mengusik sebuah kondisi dengan memainkan kertas koran dalam lukisannya, yaitu dengan cara membungkus objek-objek lukisannya dengan kertas koran, seperti manusia dari segala tingkat kehidupan, botol, becak, anjing, atau yang lainnya.

Dengan detail yang membutuhkan ketelitian serta observasi mendalam dan akurat, Budi membentuk gerak-gerak kaku sesuai dengan lipatan-lipatan koran. Mereka yang terbungkus koran tersebut, tampil sebagai benda-benda beku. Budi mengkontemplasikan berbagai per- soalan sosial melalui ekspresi artistik yang unik, dengan figur-figur yang absurd terbungkus koran.

Dia menjadikan koran sebagai sebagai fakta sosial. Menjadi topeng sekaligus tempat persembunyian manusia-manusia, khususnya masalah-masalah yang dihadapi manusia-manusia kota dalam budaya urban yang mengepungnya, yang kini menjadi perhatian Budi dalam berimajinasi.

"Manusia Koran" dari Bantul, itulah julukan yang kemudian melekat pada diri Budi. Budi sendiri terkejut mendengar julukan itu, tidak menduga pencinta seni rupa Indonesia memberikan julukan seperti itu. Tetapi, Budi tidak keberatan. Dia memang menyukai koran, baik bentuk maupun pengaruhnya. "Di mata saya, koran memiliki artistik yang indah, seperti dari sisi tata letak, berita-beritanya, foto-foto, serta iklan- iklannya. Dari sisi pengaruh, saya menilai koran memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Koran dengan berbagai isi dan jenisnya, adalah sumber informasi yang bisa dinikmati semua orang, mulai konglomerat hingga tukang becak," kata Budi.

Dengan menjadikan koran sebagai kekuatan visualnya, Budi tidak hanya membungkus objek-objek lukisannya dengan koran-koran dalam negeri saja. Pada beberapa lukisan, dia juga menampilkan berbagai tekstur dari koran-koran luar negeri, seperti koran berbahasa Tiongkok, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Koran-koran itu, dia peroleh dari kiriman teman-temannya. Dengan demikian, dia bisa mengilustrasikan tulisan-tulisan dalam koran dengan benar di dalam lukisannya.

Selain bentuk dan pengaruhnya, ada kondisi lain yang membuat Budi memilih koran sebagai bahan utama dalam menuangkan ide visualnya. Ketika presiden kedua Indonesia, Soeharto, lengser pada 1998, Budi melihat kekuatan reformasi meruntuhkan rezim Orde Baru yang membelenggu kebebasan orang.

"Saat reformasi datang, berbondong-bondong pula berbagai jenis koran di negeri ini. Koran dengan berbagai berita dan cerita, dari mulai berita yang ringan, njelimet, mengerikan, hingga yang vulgar. Pokoknya, koran telah membuat dunia penuh warna, pesona, dan sibuk bagi semua orang. Kala itu, koran menjadi kebutuhan pokok yang tidak boleh dilewatkan dari menjalani kehidupan sehari-hari," katanya.

Dengan koran-koran berbagai bentuk lekukan di atas kanvas sebagai karya berkarakter itu Budi berpameran di luar negeri. Di antaranya di Singapura, beberapa waktu lalu, dengan menampilkan 23 karya lukisan. Penampilan di pameran yang diselenggarakan oleh iPreciation itu, menjadi bukti pelaku seni rupa dari luar sudah menemukan sesuatu yang lain dari yang lain dan keunikan dari setiap goresan kuas Budi.

Yang jelas, hasil karya senirupawan yang pernah mendapat penghargaan dari Phillip Morris Indonesia Art Award 2000 di Galeri Nasional Indonesia itu, sudah bukan jago kandang lagi. Bahkan, pada Desember nanti, dia diminta berpameran di Beijing, Tiongkok.

Malahan, pada 2010, kawannya asal Swiss, Marcus Shancer, memintanya menyiapkan beberapa lukisan untuk menggelar pameran tunggal di Zurich, Swiss. Shancer adalah manajer beberapa diskotek dan restoran di Kota Zurich, yang pernah meminta Budi melukis pada dinding diskotek dan restorannya. Bahkan, di negeri itu, Budi juga pernah melukis pada sebuah dinding di jalan bebas hambatan di Kota Zurich, mengenai skandal seks mantan Presiden AS Bill Clinton dengan Monica Lewinsky.

Apakah ada niat meninggalkan koran dalam berkarya? Suami dari Rengganis Dewi Wismasari dan ayah dari Mode Juta Dewi Haryono (9), Kiara Dewi Haryono (5), dan Jalu Unggaono Pucul Pol (1,5) itu, dengan tegas mengatakan, "Saya tidak bisa ke lain hati. Hanya saja, saya akan melakukan inovasi- inovasi baru terhadap lukisan koran saya."

Meskipun predikat senirupawan kontemporer papan atas tinggal selangkah lagi melekat pada dirinya, Budi tetaplah Budi. Sosok yang menekuni agamanya dengan baik, mengasihi keluarga dan sesamanya ini, tetaplah sosok yang sederhana dan rendah hati. [SP/Ferry Kodrat]

0 komentar:

Posting Komentar